Pembahasan tentang "Aku Ingin Kau Tahu" sedang ramai diperbincangkan dan paling dicari saat ini. Jika hasil pencarian yang anda maksud sedikit berbeda dari yang anda maksud. Jangan susah dulu, kami berusaha yang terbaik bagi anda. Mungkin artikel yang anda cari tentang Aku Ingin Kau Tahu berada di halaman lain di blog ini, untuk itu coba cari terlebih dahulu, atau mungkin juga di bawah ini artikel yang mirip dengan apa yang anda cari
Ada seorang gadis, wajahnya cantik, anggun dan mempesona yang membuat siapapun akan jatuh hati bila memandangnya. Dia ramah dan bersahaja, tidak memandang siapapun orang yang ada di hadapannya, semua dianggapnya sama. Dia tidak tebang pilih untuk mencari teman, apakah mereka jelek, tampan, kaya atau miskin. Itulah salah satu yang menjadi ketertarikanku padanya. Sebut saja namanya Santi , pertama kali bertemu dengannya, hati ini bergetar entah kenapa, ada rasa canggung, takut salah bahkan merasa kikuk hanya sekedar bertanya saja. Halah, aku anggap waktu itu hanya kebetulan saja. Kenapa? Karena dari dulu aku memang belum bisa langsung berinteraksi secara supel dengan teman-teman yang baru, butuh waktu lamaaaa sekali untuk bisa akrab dengan siapapun yang baru aku kenal.
Akan tetapi ini memang lain bila aku rasakan sekarang, jika aku teliti lagi kejadian-kejadian yang aku alami sejak duduk di bangku sekolah dasar. Memang kalau dihitung berpacaran aku jauh lebih sedikit bila dibandingkan dengan teman-teman sebayaku. Memang dulu ketika masih duduk di bangku sekolah dasar aku sudah merasakan getaran-getaran perasaan yang seolah-olah mengguncang hati dan tubuhku, tiap kali bertemu salah satu teman, Yanti namanya. Ada perasaan senang, damai ketika itu. Hanya saja waktu itu aku bingung gimana caranya mengungkapkan perasaan yang aku alami itu kepadanya, hingga menginjak SMP. Karena perbedaan sekolah, aku di sekolah negeri dan dia di sekolah terbuka, akhirnya aku jarang ketemu, bisa ketemu hanya waktu ujian saja. Sebenarnya waktu itu aku masih berharap untuk bisa dekat lagi dengannya dan bisa mengungkapkan isi hatiku. Aku hanya bisa memasang intelijen, untuk mengamati dan mengawasi perilaku gadis itu di SMP Terbuka. Hal itu berlangsung hingga aku kelas 3, tidak membuahkan hasil untuk aku bisa mendekatinya, karena terbentur dengan jarak sekolah dan waktu untuk bisa bertemu dengannya, hingga akhirnya aku putus asa. Di tengah keputusasaan itu, ada jawaban, ternyata Yanti tidak mencintai aku, kenapa aku punya argumen demikian, karena dia sudah berpacaran dengan laki-laki lain. Akhirnya dengan berat hati aku harus melupakannya, meski sakit rasanya.
Seiring dengan itu, aku terus mencari dan mencari pengganti lara hatiku, hingga suatu ketika Alloh mempertemukan seorang gadis bernama Ely. Waktu itu aku sangat bersyukur, dialah harapan aku, anugerah dari Alloh yang bisa menjadikan aku nanti tenang, damai, bisa melampiaskan apapun yang aku alami untuk bisa berbagi dengannya, saling menasehati dan sebagainya, buanyak sekali harapan-harapan yang aku tumpahkan kepadanya.
Namun perjuangannya aku tidak semudah yang aku bayangkan. Butuh waktu dan kesabaran, berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, kalo kata pujangga. Hanya itu yang menjadi semangat untuk mendapatkan Ely.
Sejak mengenalnya, hampir tiap minggu, tiap libur sekolah aku usahakan untuk datang ke rumahnya hanya mengemis cinta darinya, dengan cara apapun dan bagaimanapun, karena hati ini sudah terbakar asmara.
Sejak aku sudah berani mengungkapkan rasa cinta, terus menerus tiap kali datang ke rumahnya aku selalu berusaha untuk bisa mendapatkan cintanya, merayunya untuk mau ku ajak berpacaran. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan hingga aku SLTA. Aku hanya menunggu jawaban, karena waktu itu tiap kali aku ajak untuk berpacaran, dia selalu menjawab, nanti aja kalo aku sudah SLTA. Waduh pusing tujuh keliling.
Sejak di SLTA itulah aku merasa putus asa lagi, dan aku hanya bisa meratapi nasib, memang aku mungkin ditakdirkan untuk tidak memiliki seorang pacar, aku harus fokus untuk belajar dulu. Namun perasaan tidak bisa diajak kompromi, terus mengganggu aktifitasku, tidak bisa begitu saja melupakannya. Ketika kos di Kota Blitar, karena waktu itu aku sekolah di salah satu sekolah kejuruan terbesar di Kota Blitar, beberapa gadis berusaha mendekati aku. Akan tetapi aku tidak bisa menerima mereka, karena hatiku sudah terkunci untuk seorang Ely dan menunggu janji Ely, jika dia sudah SLTA akan mau menjadi kekasihku. Hingga saat yang aku nantikan datang, benar saja ketika dia sudah duduk di kelas satu di sebuah sekolah kejuruan juga, namun di sekolah berbeda. Waktu itu dia datang ke tempat kos di mana aku nge-kos, dia tidak mengatakan apapun, dan aku juga bingung harus mengatakan apa. Meski berat sekali memang, aku harus bisa merelakannya, ada kabar yang beredar waktu itu, memang masih dari teman-teman yang aku percaya, Ely sudah berpacaran dengan tetangganya. Sebenarnya aku masih mencintainya, namun apa dikata, karena jarak lagi yang harus menghentikan dan memendam harapanku untuk menjadikan Ely belahan jiwaku.
Sejak memiliki perasaan cinta kepada gadis, tidak seperti teman-teman sebayaku, tidak hanya berpacaran saja, sekali berpacaran kalo bisa aku lanjutkan ke jenjang pernikahan, itu memang sudah menjadi tekatku dan aku berjanji berusaha tidak akan menyakiti perasaan perempuan. Sekali berpacaran aku tidak akan memutuskan, kalaupun diputuskan oleh gadis yang aku cintai, biarlah, mungkin aku harus berbenah, ada apa denganku, bisa belajar di mana letak kesalahanku.
Harapan tidaklah pernah sirna jika memang Alloh menghendaki, meski pernah ada dua gadis yang pernah mendampingiku, berpacaran, namun tetap saja belum merasakan sesuatu yang membuatku tenang, damai, dan bahagia seutuhnya.
Hingga akhirnya aku menempuh sekolah di sebuah universitas di Tulungagung, memang sih aku sudah menikah. Tapi belajar bagiku tidak ada batasnya. Dan istriku juga mendukungnya.
Oh iya, kenapa tiba-tiba ceritanya kok aku sudah menikah? Sebenarnya kejadian hingga aku menikah tidak sesingkat itu. Ini berlangsung cukup lama, beberapa tahun kemudian dan membutuhkan proses menemukan jati diri. Sebenarnya siapa dan apa, bagaimana seharusnya aku dan apa yang harus aku lakukan setelah berkali-kali gagal?
Di tengah kegalauan, menambatkan hati ini, akhirnya aku labuhkan diriku kepada seorang gadis yang sekarang menjadi pendamping hidupku hingga saat ini.
Meski dulu pertama kali aku belum mencintainya, namun aku berusaha untuk mencintainya, kalaupun aku kurang bahagia waktu itu biarlah, Alloh yang membimbingku.
Kenangan bersama pacarku dulu aku merasa gundah, belum bisa merasakan nyaman di hatiku, hingga aku dibuat tak berdaya tanpa kata-kata melepas kekasihku. Dan akhirnya kuputuskan lebih baik dicintai dari pada mencintai.
Dari situlah hingga aku berdiri tegak sampai detik ini. Ternyata ada kenikmatan yang luar biasa yang diberikan Alloh kepadaku, yang mungkin belum tentu aku dapatkan jika aku menikah dengan Yanti maupun Ely ataupun gadis yang pernah bersamaku.
Dengan berbekal pengalaman itu aku mulai bisa memahami hidup, untuk apa kita itu hidup dan apa yang kita lakukan dalam hidup ini. Di sinilah aku menemukan lingkungan untuk mempelajari semua itu, mulai dari menyikapi suatu masalah hingga menata diri dan hati, bahwa kita hidup hanya untuk mempersiapkan diri kita menghadap Sang Khaliq, Alloh SWT.
Aku sudah berusaha memahami dan mempelajari itu semua, ya namanya manusia biasa yang hina seperti aku ini, kadang naik kadang turun hati ini dalam menjalani hidup. Tapi aku hanya bisa berusaha lurus di jalan Alloh semampuku meski masih kecil kualitasnya. Lebih baik satu ilmu yang aku mengerti dan itu benar aku lakukan dari pada banyak ilmu hanya dimengerti dan dipahami saja tanpa dilakukan.
Seiring berjalannya waktu semasa perkuliahan, awal mulanya memang tidak ada yang istimewa, berjalan normal seperti saat-saat sekolah dulu, tapi begitu aku bertemu Santi hatiku bergetar entah bagaimana itu bisa terjadi dan itu tidak aku inginkan namun tetap saja tiap kali melihat dia selalu begitu, padahal waktu itu aku belum mengenalnya, dan kuanggap itu hanya keminderanku saja. Selain itu kalaupun aku merasa ada perasaan cinta itu tidak mungkin dan tidak akan aku indahkan karena aku sudah beristri. Apapun alasannya aku harus mampu mengendalikan diri sedapat mungkin untuk menahan nafsu asmara itu kalaupun saat itu benar getarnya hatiku memang cinta.
Yang kurasakan ini sama persis dengan yang kurasakan ketika saat bersama Yanti dan juga ketika bersama Ely.
Hari-hari terus berlalu seperti biasa tanpa ada yang istimewa, hingga teman-teman sekelas akhirnya saling mengenal nama dan asal mereka masing-masing. Pembelajaran terus berjalan seperti adanya, hingga menginjak semester 2. Ketika di semester 2 itulah awal kedekatan kita dan bersama-sama mengadakan tour dengan teman se-kelas, di sebuah pantai yang indah di selatan pulau jawa, tempatnya asyik dan menyenangkan jika untuk memadu kasih di sana. Istri dan anakku kuajak juga, semua bergembira bersama, bercanda, tertawa, hingga bermain air dan kejar-kejaran layaknya mengenang masa-masa indah kanak-kanak dulu, bisa dikatakan seolah-olah semua masalah dan problema hidup terlupakan waktu itu.
Ketika semester empat kedekatanku dengan Santi seolah seperti dua sejoli yang tak dapat dipisahkan, namun itu hanya sebatas sahabat, aku dan dia saling mengerti dan memberi pengertian kalau aku sudah beristri dan dia pun tidak canggung untuk berkeluh kesah kepadaku, apapun yang dirasakannya hampir selalu dia ceritakan kepadaku, begitupun aku, apa yang kualami juga kukatakan padanya, hanya saja bedanya ada rahasia-rahasia rumah tangga aku yang harus aku jaga yang tidak dapat aku ceritakan kepadanya karena itu amanah dan tanggung jawabku sebagai pemimpin keluarga. Selebihnya aku ceritakan apa adanya kepada Santi.
Tiap hari dan tiap malam sebenarnya aku gelisah, kenapa harus begini perasaanku, apa yang harus aku lakukan dan aku perbuat. Aku tidak mau sebenarnya hal ini terjadi kepadaku, tapi apakah ini sudah kehendak atau hanya nafsuku belaka. Tak bisa aku membedakannya.
Kalaupun memang benar ini perasaan cinta, haruskah aku mengatakannya kepada Santi, biar dia tahu dan cukup tahu saja. Akan tetapi jika dia tahu yang aku takutkan, bagaimana jika dia sampai membenciku dan menjauh dariku. Dan itu artinya percuma persahabatan ini aku jalin, persahabatan ini cukup berarti bagiku, tali silaturrohim yang aku rangkai hingga detik ini akan terputus begitu saja. Itulah yang benar-benar aku takutkan. Ya Alloh, berilah petunjuk-Mu.
Apakah tidak boleh jika aku memiliki perasaan lebih kepada Santi, aku hanya ingin dia tahu saja. Kalaupun dia menerima cintaku, aku sangat bahagia sekali. Aku cuma ingin tahu jawabannya, apalagi jika dia juga mencintaiku, itu merupakan anugerah yang luar biasa bagiku. Aku juga tidak bisa memaksanya untuk mencintaiku, yang aku inginkan cukup dia tahu bahwa aku mencintainya. Aku ingin dia mengerti isi hatiku, aku tidak berharap banyak darinya. Hanya ingin mengetahui juga perasaannya kepadaku, syukur-syukur kalau dia juga mencintaiku. Kalaupun jika aku berharap dia menjadi istriku, itu sangat jauh untuk digapai dan sulit terjadi dan sangat mustahil, hanya Alloh Yang Maha Tahu hanya Alloh Yang Maha Menghendaki. Aku tidak mau menyakiti orang yang aku cintai, bahkan kalau bisa aku membahagiakannya dengan cara apapun yang bisa aku lakukan. Asal dia tidak memutuskan hubungan silaturrohmi maupun sahabat, bahkan kalau memang dia juga mencintaiku. Kata cinta kepadaku sudah cukup rasanya bagiku. Aku cuma bisa berharap dan berdoa kita saling memahami dan mengerti, kalaupun cinta tidak bisa saling memiliki yang terpenting tetap terjalin silaturrohmi. Tetap ada ikatan hati dan hubungan kita tidak akan berubah apapun yang terjadi nanti.
”Segala sesuatu yang terjadi hanya atas ijin Alloh semata. Semoga Alloh memberi petunjuk di jalan yang terbaik bagi kita. Amin”
Akan tetapi ini memang lain bila aku rasakan sekarang, jika aku teliti lagi kejadian-kejadian yang aku alami sejak duduk di bangku sekolah dasar. Memang kalau dihitung berpacaran aku jauh lebih sedikit bila dibandingkan dengan teman-teman sebayaku. Memang dulu ketika masih duduk di bangku sekolah dasar aku sudah merasakan getaran-getaran perasaan yang seolah-olah mengguncang hati dan tubuhku, tiap kali bertemu salah satu teman, Yanti namanya. Ada perasaan senang, damai ketika itu. Hanya saja waktu itu aku bingung gimana caranya mengungkapkan perasaan yang aku alami itu kepadanya, hingga menginjak SMP. Karena perbedaan sekolah, aku di sekolah negeri dan dia di sekolah terbuka, akhirnya aku jarang ketemu, bisa ketemu hanya waktu ujian saja. Sebenarnya waktu itu aku masih berharap untuk bisa dekat lagi dengannya dan bisa mengungkapkan isi hatiku. Aku hanya bisa memasang intelijen, untuk mengamati dan mengawasi perilaku gadis itu di SMP Terbuka. Hal itu berlangsung hingga aku kelas 3, tidak membuahkan hasil untuk aku bisa mendekatinya, karena terbentur dengan jarak sekolah dan waktu untuk bisa bertemu dengannya, hingga akhirnya aku putus asa. Di tengah keputusasaan itu, ada jawaban, ternyata Yanti tidak mencintai aku, kenapa aku punya argumen demikian, karena dia sudah berpacaran dengan laki-laki lain. Akhirnya dengan berat hati aku harus melupakannya, meski sakit rasanya.
Seiring dengan itu, aku terus mencari dan mencari pengganti lara hatiku, hingga suatu ketika Alloh mempertemukan seorang gadis bernama Ely. Waktu itu aku sangat bersyukur, dialah harapan aku, anugerah dari Alloh yang bisa menjadikan aku nanti tenang, damai, bisa melampiaskan apapun yang aku alami untuk bisa berbagi dengannya, saling menasehati dan sebagainya, buanyak sekali harapan-harapan yang aku tumpahkan kepadanya.
Namun perjuangannya aku tidak semudah yang aku bayangkan. Butuh waktu dan kesabaran, berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, kalo kata pujangga. Hanya itu yang menjadi semangat untuk mendapatkan Ely.
Sejak mengenalnya, hampir tiap minggu, tiap libur sekolah aku usahakan untuk datang ke rumahnya hanya mengemis cinta darinya, dengan cara apapun dan bagaimanapun, karena hati ini sudah terbakar asmara.
Sejak aku sudah berani mengungkapkan rasa cinta, terus menerus tiap kali datang ke rumahnya aku selalu berusaha untuk bisa mendapatkan cintanya, merayunya untuk mau ku ajak berpacaran. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan hingga aku SLTA. Aku hanya menunggu jawaban, karena waktu itu tiap kali aku ajak untuk berpacaran, dia selalu menjawab, nanti aja kalo aku sudah SLTA. Waduh pusing tujuh keliling.
Sejak di SLTA itulah aku merasa putus asa lagi, dan aku hanya bisa meratapi nasib, memang aku mungkin ditakdirkan untuk tidak memiliki seorang pacar, aku harus fokus untuk belajar dulu. Namun perasaan tidak bisa diajak kompromi, terus mengganggu aktifitasku, tidak bisa begitu saja melupakannya. Ketika kos di Kota Blitar, karena waktu itu aku sekolah di salah satu sekolah kejuruan terbesar di Kota Blitar, beberapa gadis berusaha mendekati aku. Akan tetapi aku tidak bisa menerima mereka, karena hatiku sudah terkunci untuk seorang Ely dan menunggu janji Ely, jika dia sudah SLTA akan mau menjadi kekasihku. Hingga saat yang aku nantikan datang, benar saja ketika dia sudah duduk di kelas satu di sebuah sekolah kejuruan juga, namun di sekolah berbeda. Waktu itu dia datang ke tempat kos di mana aku nge-kos, dia tidak mengatakan apapun, dan aku juga bingung harus mengatakan apa. Meski berat sekali memang, aku harus bisa merelakannya, ada kabar yang beredar waktu itu, memang masih dari teman-teman yang aku percaya, Ely sudah berpacaran dengan tetangganya. Sebenarnya aku masih mencintainya, namun apa dikata, karena jarak lagi yang harus menghentikan dan memendam harapanku untuk menjadikan Ely belahan jiwaku.
Sejak memiliki perasaan cinta kepada gadis, tidak seperti teman-teman sebayaku, tidak hanya berpacaran saja, sekali berpacaran kalo bisa aku lanjutkan ke jenjang pernikahan, itu memang sudah menjadi tekatku dan aku berjanji berusaha tidak akan menyakiti perasaan perempuan. Sekali berpacaran aku tidak akan memutuskan, kalaupun diputuskan oleh gadis yang aku cintai, biarlah, mungkin aku harus berbenah, ada apa denganku, bisa belajar di mana letak kesalahanku.
Harapan tidaklah pernah sirna jika memang Alloh menghendaki, meski pernah ada dua gadis yang pernah mendampingiku, berpacaran, namun tetap saja belum merasakan sesuatu yang membuatku tenang, damai, dan bahagia seutuhnya.
Hingga akhirnya aku menempuh sekolah di sebuah universitas di Tulungagung, memang sih aku sudah menikah. Tapi belajar bagiku tidak ada batasnya. Dan istriku juga mendukungnya.
Oh iya, kenapa tiba-tiba ceritanya kok aku sudah menikah? Sebenarnya kejadian hingga aku menikah tidak sesingkat itu. Ini berlangsung cukup lama, beberapa tahun kemudian dan membutuhkan proses menemukan jati diri. Sebenarnya siapa dan apa, bagaimana seharusnya aku dan apa yang harus aku lakukan setelah berkali-kali gagal?
Di tengah kegalauan, menambatkan hati ini, akhirnya aku labuhkan diriku kepada seorang gadis yang sekarang menjadi pendamping hidupku hingga saat ini.
Meski dulu pertama kali aku belum mencintainya, namun aku berusaha untuk mencintainya, kalaupun aku kurang bahagia waktu itu biarlah, Alloh yang membimbingku.
Kenangan bersama pacarku dulu aku merasa gundah, belum bisa merasakan nyaman di hatiku, hingga aku dibuat tak berdaya tanpa kata-kata melepas kekasihku. Dan akhirnya kuputuskan lebih baik dicintai dari pada mencintai.
Dari situlah hingga aku berdiri tegak sampai detik ini. Ternyata ada kenikmatan yang luar biasa yang diberikan Alloh kepadaku, yang mungkin belum tentu aku dapatkan jika aku menikah dengan Yanti maupun Ely ataupun gadis yang pernah bersamaku.
Dengan berbekal pengalaman itu aku mulai bisa memahami hidup, untuk apa kita itu hidup dan apa yang kita lakukan dalam hidup ini. Di sinilah aku menemukan lingkungan untuk mempelajari semua itu, mulai dari menyikapi suatu masalah hingga menata diri dan hati, bahwa kita hidup hanya untuk mempersiapkan diri kita menghadap Sang Khaliq, Alloh SWT.
Aku sudah berusaha memahami dan mempelajari itu semua, ya namanya manusia biasa yang hina seperti aku ini, kadang naik kadang turun hati ini dalam menjalani hidup. Tapi aku hanya bisa berusaha lurus di jalan Alloh semampuku meski masih kecil kualitasnya. Lebih baik satu ilmu yang aku mengerti dan itu benar aku lakukan dari pada banyak ilmu hanya dimengerti dan dipahami saja tanpa dilakukan.
Seiring berjalannya waktu semasa perkuliahan, awal mulanya memang tidak ada yang istimewa, berjalan normal seperti saat-saat sekolah dulu, tapi begitu aku bertemu Santi hatiku bergetar entah bagaimana itu bisa terjadi dan itu tidak aku inginkan namun tetap saja tiap kali melihat dia selalu begitu, padahal waktu itu aku belum mengenalnya, dan kuanggap itu hanya keminderanku saja. Selain itu kalaupun aku merasa ada perasaan cinta itu tidak mungkin dan tidak akan aku indahkan karena aku sudah beristri. Apapun alasannya aku harus mampu mengendalikan diri sedapat mungkin untuk menahan nafsu asmara itu kalaupun saat itu benar getarnya hatiku memang cinta.
Yang kurasakan ini sama persis dengan yang kurasakan ketika saat bersama Yanti dan juga ketika bersama Ely.
Hari-hari terus berlalu seperti biasa tanpa ada yang istimewa, hingga teman-teman sekelas akhirnya saling mengenal nama dan asal mereka masing-masing. Pembelajaran terus berjalan seperti adanya, hingga menginjak semester 2. Ketika di semester 2 itulah awal kedekatan kita dan bersama-sama mengadakan tour dengan teman se-kelas, di sebuah pantai yang indah di selatan pulau jawa, tempatnya asyik dan menyenangkan jika untuk memadu kasih di sana. Istri dan anakku kuajak juga, semua bergembira bersama, bercanda, tertawa, hingga bermain air dan kejar-kejaran layaknya mengenang masa-masa indah kanak-kanak dulu, bisa dikatakan seolah-olah semua masalah dan problema hidup terlupakan waktu itu.
Ketika semester empat kedekatanku dengan Santi seolah seperti dua sejoli yang tak dapat dipisahkan, namun itu hanya sebatas sahabat, aku dan dia saling mengerti dan memberi pengertian kalau aku sudah beristri dan dia pun tidak canggung untuk berkeluh kesah kepadaku, apapun yang dirasakannya hampir selalu dia ceritakan kepadaku, begitupun aku, apa yang kualami juga kukatakan padanya, hanya saja bedanya ada rahasia-rahasia rumah tangga aku yang harus aku jaga yang tidak dapat aku ceritakan kepadanya karena itu amanah dan tanggung jawabku sebagai pemimpin keluarga. Selebihnya aku ceritakan apa adanya kepada Santi.
Tiap hari dan tiap malam sebenarnya aku gelisah, kenapa harus begini perasaanku, apa yang harus aku lakukan dan aku perbuat. Aku tidak mau sebenarnya hal ini terjadi kepadaku, tapi apakah ini sudah kehendak atau hanya nafsuku belaka. Tak bisa aku membedakannya.
Kalaupun memang benar ini perasaan cinta, haruskah aku mengatakannya kepada Santi, biar dia tahu dan cukup tahu saja. Akan tetapi jika dia tahu yang aku takutkan, bagaimana jika dia sampai membenciku dan menjauh dariku. Dan itu artinya percuma persahabatan ini aku jalin, persahabatan ini cukup berarti bagiku, tali silaturrohim yang aku rangkai hingga detik ini akan terputus begitu saja. Itulah yang benar-benar aku takutkan. Ya Alloh, berilah petunjuk-Mu.
Apakah tidak boleh jika aku memiliki perasaan lebih kepada Santi, aku hanya ingin dia tahu saja. Kalaupun dia menerima cintaku, aku sangat bahagia sekali. Aku cuma ingin tahu jawabannya, apalagi jika dia juga mencintaiku, itu merupakan anugerah yang luar biasa bagiku. Aku juga tidak bisa memaksanya untuk mencintaiku, yang aku inginkan cukup dia tahu bahwa aku mencintainya. Aku ingin dia mengerti isi hatiku, aku tidak berharap banyak darinya. Hanya ingin mengetahui juga perasaannya kepadaku, syukur-syukur kalau dia juga mencintaiku. Kalaupun jika aku berharap dia menjadi istriku, itu sangat jauh untuk digapai dan sulit terjadi dan sangat mustahil, hanya Alloh Yang Maha Tahu hanya Alloh Yang Maha Menghendaki. Aku tidak mau menyakiti orang yang aku cintai, bahkan kalau bisa aku membahagiakannya dengan cara apapun yang bisa aku lakukan. Asal dia tidak memutuskan hubungan silaturrohmi maupun sahabat, bahkan kalau memang dia juga mencintaiku. Kata cinta kepadaku sudah cukup rasanya bagiku. Aku cuma bisa berharap dan berdoa kita saling memahami dan mengerti, kalaupun cinta tidak bisa saling memiliki yang terpenting tetap terjalin silaturrohmi. Tetap ada ikatan hati dan hubungan kita tidak akan berubah apapun yang terjadi nanti.
”Segala sesuatu yang terjadi hanya atas ijin Alloh semata. Semoga Alloh memberi petunjuk di jalan yang terbaik bagi kita. Amin”
Aku Ingin Kau Tahu
Rating: 9 dari 10 diulas oleh Warta One. Dilihat: 99999

0 komentar:
Posting Komentar